Makna Ibadah
Berkata Syaikhul Islam: "Ibadah itu adalah mentaati Allah dengan melaksanakan apa-apa yang Allah perintahkan melalui lisan para Rasul". Dan juga beliau berkata: "Ibadah itu adalah nama yang mencakup setiap apa-apa yang Allah mencintainya dan meridhainya berupa perkataan dan perbuatan yang zhahir maupun yang batin".
Berkata Imam Al-Qurthubi: "Asal ibadah adalah merendahkan diri dan ketundukan. Dan pekerjaan syariat atas mukallaf (yang dibebani ibadah) dinamakan ibadah karena mereka menetapi ibadah itu dan melakukannya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri kepada Allah".
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku" (Adz-Dzariyat: 56)
Berkata Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut: "Dan beribadah kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Yang demikian adalah hakekat agama Islam, karena makna Islam adalah berserah diri kepada Allah yang terkandung di dalamnya benar-benar melaksanakan perintah, kerendahan dan ketundukan". [Lihat Fathul Majid: 27]
Hanya Allah yang berhak diibadahi
Pada ayat di atas terdapat hikmah diciptakannya manusia, yaitu tidaklah Allah menciptakan manusia dan jin kecuali supaya beribadah kepada Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa mentaati-Nya maka Allah akan membalasnya dengan balasan yang paling sempurna, dan barangsiapa memaksiati-Nya maka Allah akan menyiksanya dengan sekeras-keras siksaan. Juga Allah mengkhabarkan bahwa Dia tidak butuh kepada makhluk, bahkan makhluklah yang butuh kepada-Nya dalam setiap keadaan, Allahlah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka. Allah berfirman:
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
"Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh" (Adz-Dzariyat: 57-58)
Berdasarkan firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat: 56 kita mengetahui bahwasannya kita adalah makhluk yang diciptakan, dan hikmah diciptakannya manusia adalah supaya beribadah kepada yang menciptakannya. Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa" (Al-Baqarah: 21)
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (Thaha: 14)
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ
"Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya" (Maryam: 65)
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لا إِلَهَ إِلا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ
"(yang memiliki sifat-sifat) demikian itu ialah Allah Rabb kalian, tidak ada sesembahan (yang haq) selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia" (Al-An'am: 102)
Dari Abdullah bin Mas'ud t berkata: Menceritakan kepada kami Rasulullah r dan beliau itu jujur dan dibenarkan:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَ يُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَ أَجَلِهِ، وَ عَمَلِهِ، وَ شَقِيٌّ أَمْ سَعِيْدٌ
"Sesungguhnya salah seorang kalian dikumpulkan penciptaannya pada perut ibunya selama empat puluh hari berupa cairan (mani), kemudian menjadi segumpal darah semisal itu, kemudian menjadi segumpal daging semisal itu, kemudian diutus kepadanya malaikat maka ditiupkanlah padanya ruh dan diperintahkan dengan empat kalimat: agar ditetapkan rizkinya, ajalnya, amalannya dan kecelakaan atau kebahagiaannya" (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari ayat-ayat dan hadits di atas kita mengetahui bahwasannya kita diperintahkan beribadah kepada Dzat yang telah menciptakan kita, dan yang telah menciptakan kita adalah Allah U. Maka segala macam peribadahan wajib diniatkan untuk Allah dan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya, karena selain Allah tidak memiliki sifat-sifat khusus Rububiyah dan Uluhiyah, selain Allah adalah makhluk yang tidak bisa mencipta, tidak dapat mendatangkan manfaat terhadap yang menyembahnya, tidak bisa menolak mudharat, tidak bisa menghidupkan dan mematikan, tidak memiliki kekuasaan walaupun sedikit terhadap apa-apa yang di langit maupun di bumi. Allah berfirman:
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلا يَمْلِكُونَ لأنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا وَلا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلا حَيَاةً وَلا نُشُورًا
"Kemudian mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Dia (untuk disembah), yang mereka itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan, dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun, dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan" (Al-Furqan: 3)
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ وَلا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ
"Katakanlah: "Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai sesembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya" (Saba ': 22-23)
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
"(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah Dialah (sesembahan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar" (Al-Hajj: 62)
Syarat diterimanya ibadah
Kemudian ibadah yang bagaimanakah yang Allah maksudkan?, Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya" (Al-Bayyinah: 5)
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya" (Al-Kahfi: 110)
Berkata Ibnu Katsir menjelaskan surat Al-Kahfi: 110 di atas: "("mengerjakan amal yang shalih") yaitu apa-apa yang mencocoki syariat Allah, ("janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya") yang dimaksud dengannya adalah wajah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan ini adalah dua rukun amalan yang diterima, yaitu wajib ikhlas karena Allah dan mencocoki syariat Rasulullah r"
Nabi r bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa mengada-ada pada perkara (agama) kami ini apa-apa yang bukan dari urusan kami maka perkara tersebut ditolak" (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat Muslim:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami maka amalan itu tertolak"
Inilah ibadah yang diinginkan oleh Allah U, yaitu ibadah yang dimaksudkan untuk Allah semata dan mencocoki sunnah/petunjuk Nabi r.
Semoga dengan uraian yang singkat ini memberikan gambaran tentang hikmah diciptaannya manusia dan ibadah yang diinginkan oleh Allah U.
Wallahu a'lam bish shawab
وَ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ
Pertanyaan:
Tulisan yang di bawah ini hadits apa hanya syair, tolong dijelaskan! Rasul bilang: "Carilah dunia seakan-akan engkau hidup seribu tahun lagi dan carilah akhirat seakan-akan engkau mati besok"
(Amirul_Laha, 085243760XXX)
Dijawab oleh Al-Ustadz Abdussalam:
Jika yang dimaksud seperti yang telah diutarakan oleh si penanya dengan lafazh demikian maka tulisan tersebut seperti bait yang telah diucapkan oleh salah seorang penyair, dan jelas sama sekali bukan hadits. Namun jika lafazhnya agak berbeda dengan yang telah ditulis maka ada riwayat yang menunjukkan hal tersebut. Teks hadits tersebut berbunyi:
اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا ، وَ اعْمَلْ لآِخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
"Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya dan berbuatlah untuk akheratmu seakan-akan engkau akan mati besok".
Namun hadits tersebut dihukumi oleh ulama ahli hadits sebagai hadits dha'if (lemah) sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah (1/63).
Faedah hadits:
- Hadits dha'if tidak bisa diamalkan meskipun untuk fadhailul a'mal, sebagaimana pendapat Imam Bukhari dan Imam Muslim, karena dikhawatirkan terkena ancaman hadits yang telah mutawatir (banyak yang meriwayatkan):
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka silahkan dia menempati tempatnya di neraka" (HR. Bukhari)
- Kalaupun hadits tersebut shahih sebagaimana lafazh ini telah dikatakan oleh sahabat Ibnu Umar, maka secara makna tidaklah menunjukkan keseimbangan antara amal dunia dan akhirat, namun sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al-Albani bahwa teks hadits ini bukanlah nash (dalil) untuk perkara amal dunia, bahkan yang nampak dari hadits tersebut bahwa amal tersebut adalah untuk akhirat. Dan tujuan dari hadits tersebut adalah anjuran untuk terus menerus dalam beramal shalih dengan kelembutan dan tidak pernah terputus amalnya, sebagaimana sabda Nabi r :
أَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَ إِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling langgeng (istiqamah/terus-menerus) meskipun sedikit" (Muttafaqun 'alaih)
Wallahu a'lam.
Dan pendapat beliau ini sesuai dengan ayat Allah:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi" (Al-Qashash: 77)
Ibnu Abbas dan jumhur (mayorits ulama) berkata: "Jangan engkau habiskan umur untuk tidak beramal shalih di duniamu, karena hanyalah akhirat yang dituju dalam beramal. Maka nasib (bagian) manusia adalah umurnya dan amalannya yang shalih. Pembicaraan dalam penjelasan seperti ini adalah keras dan tegas dalam memberikan nasehat"
Wallahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam